Kultur Sekolah

Laporan bacaan ke-5
Sekolah sebagai suatu sistem memiliki tiga aspek utama yang erat kaitannya dengan mutu sekolah, yaitu: proses belajar mengajar, kepemimpinan dan manajemen sekolah, dan budaya sekolah. Program aksi peningkatan mutu sekolah secara konvensional selalu menekankan pada aspek pertama, yaitu peningkatan kualitas proses belajar mengajar, sedikit menyentuh aspek kepemimpinan dan manajemen sekolah, dan tidak pernah menyentuh aspek budaya sekolah. Tentu pilihannya tidak terlalu salah, karena aspek itulah yang paling dekat dengan prestasi belajar siswa. Namun, sejauh ini bukti-bukti menunjukkan, sebagaimana dikemukakan Hanushek di atas, bahwa target peningkatan kualitas pada aspek PBM saja tidak cukup. Dengan kata lain, perlu dikaji pendekatan-pendekatan yang tidak konvensional yaitu peningkatan mutu dengan tujuan mengembangkan budaya sekolah.
Kebudayaan adalah pandangan hidup yang diakui bersama oleh sekelompok orang, yang meliputi cara berpikir, perilaku, sikap, nilai-nilai yang tercermin baik dalam bentuk fisik maupun abstrak. Budaya ini juga dapat dilihat sebagai perilaku, nilai, sikap hidup, dan cara hidup untuk beradaptasi dengan lingkungan, dan sekaligus cara untuk melihat masalah dan menyelesaikannya. Oleh karena itu, suatu budaya secara alami akan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sekolah merupakan lembaga utama yang dirancang untuk memfasilitasi proses transmisi budaya antar generasi.

Dalam dunia pendidikan, pada awalnya budaya suatu bangsa (bukan budaya sekolah) dianggap sebagai faktor yang paling menentukan kualitas sekolah. Namun, berbagai penelitian menemukan bahwa pengaruh budaya nasional terhadap prestasi pendidikan tidak sebesar yang diperkirakan sebelumnya. Bukti terbaru, hasil TIMSS (The Third International Math and Science Study) menunjukkan bahwa siswa dari Jepang dan Belgia sama-sama menempati peringkat teratas untuk mata pelajaran matematika, meskipun budaya dari negara-negara tersebut berbeda. Oleh karena itu, peneliti pendidikan lebih menitikberatkan pada budaya sekolah, daripada budaya masyarakat pada umumnya, sebagai salah satu penentu mutu sekolah. Tesis ini sesuai dengan temuan penelitian terbaru di bidang pendidikan yang menekankan bahwa “penentu mutu pendidikan tidak hanya dalam bentuk fisik, seperti keberadaan guru yang berkualitas, kelengkapan peralatan laboratorium dan buku perpustakaan, tetapi juga dalam bentuk non fisik yaitu budaya, sekolah”.

Konsep budaya dalam pendidikan berasal dari budaya kerja di dunia industri, yaitu suatu keadaan yang akan memberikan landasan dan arah bagi berlangsungnya proses pembelajaran yang efisien dan efektif. Salah satu ilmuwan yang memberikan kontribusi penting dalam hal ini adalah antropolog Clifford Geertz yang mendefinisikan budaya sebagai pola pemahaman fenomena sosial, yang diungkapkan baik secara eksplisit maupun implisit. Berdasarkan pengertian budaya menurut Clifford Geertz di atas, budaya sekolah dapat digambarkan sebagai pola nilai, norma, sikap, ritual, mitos dan kebiasaan yang terbentuk dalam perjalanan panjang sekolah. Budaya sekolah saat ini dimiliki bersama oleh kepala sekolah, guru, staf administrasi dan siswa, sebagai dasar mereka untuk memahami dan memecahkan berbagai masalah yang muncul di sekolah.

Pengaruh budaya sekolah terhadap prestasi belajar siswa di Amerika Serikat telah dibuktikan melalui penelitian empiris. Budaya “sehat” berkorelasi tinggi dengan a) prestasi dan motivasi berprestasi siswa, b) sikap dan motivasi kerja guru, dan, c) produktivitas guru dan kepuasan kerja. Namun, analisis budaya sekolah harus dilihat sebagai bagian dari satu kesatuan sekolah yang utuh. Artinya, sesuatu yang ada dalam budaya sekolah hanya dapat dilihat dan dijelaskan dalam kaitannya dengan aspek lain, seperti,
 a) rangsangan untuk berprestasi,
b) penghargaan yang tinggi atas prestasi,
c) masyarakat sekolah yang tertib,
d) pemahaman tujuan sekolah,
e) ideologi organisasi yang kuat,
f) partisipasi orang tua siswa,
g) kepemimpinan kepala sekolah, dan,
h) hubungan yang erat antar guru.
Dengan kata lain, pengaruh budaya sekolah terhadap prestasi belajar siswa, meskipun sangat kuat, tidak secara langsung, tetapi melalui berbagai variabel, seperti semangat kerja keras dan keinginan untuk berprestasi.
Di Indonesia, belum banyak penelitian tentang budaya sekolah dalam kaitannya dengan prestasi belajar siswa. Namun mengingat sekolah sebagai suatu sistem di mana-mana relatif sama, maka hasil penelitian di Amerika Serikat perlu mendapat perhatian, paling tidak dapat dijadikan sebagai jawaban hipotetis atas permasalahan pendidikan kita.
Kebudayaan adalah pandangan hidup yang diakui bersama oleh sekelompok orang, yang meliputi cara berpikir, perilaku, sikap, nilai-nilai yang tercermin baik dalam bentuk fisik maupun abstrak. Budaya ini juga dapat dilihat sebagai perilaku, nilai, sikap hidup, dan cara hidup untuk beradaptasi dengan lingkungan, dan sekaligus cara untuk melihat masalah dan menyelesaikannya. Oleh karena itu, suatu budaya secara alami akan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sekolah merupakan lembaga utama yang dirancang untuk memfasilitasi proses transmisi budaya antar generasi.

http://www.britishcouncil.org/issn-modul_kewirausahaan_sosial_berbasis_sekolah__2_.pdf
http://rivafauziah.blogdetik.com/2005/06/26/membangun-kultur-sekolah/
http://pakguruonline.pendidikan.net/pradigma_pdd_ms_depan_36.html
http://citraberkatsby.blogspot.com/

Komentar